BLAHBATUH – Suasana di SMA Negeri 1 Blahbatuh (Blasman) terasa berbeda pada pekan ini. Halaman sekolah yang biasanya dipenuhi riuh siswa berseragam putih abu-abu, kini berubah menjadi lautan busana adat madya yang anggun dan gagah.
Dalam rangka memeriahkan Bulan Bahasa Bali Tahun 2026, keluarga besar Blasman kembali menggelar serangkaian kegiatan budaya yang kental akan nilai tradisi, namun tetap dikemas dengan semangat kreativitas anak muda. Mengusung semangat pelestarian budaya di era digital, acara tahun ini menyoroti tiga agenda utama: Lomba Lagu Pop Bali, Lomba Debat Bahasa Bali, Lomba Membaca Puisi Bahasa Bali sera Parade Menulis Aksara Bali, hiburan berupa Geguntangan dan Parade Memadik
Hening Cipta dalam Goresan Aksara
Rangkaian acara dibuka dengan pemandangan yang memukau dan khidmat melalui Parade Menulis Aksara Bali. Ratusan siswa perwakilan dari berbagai kelas duduk bersila di area alaman sekolah. Dengan dulang sebagai alas, mereka menunduk khusyuk, menggoreskan pengrupak di atas daun lontar, menyalin bait-bait sastra klasik. Tidak hanya menggores tulisan dengan gaya tradisional, penerapan teknologi juga turut serta dalam kegiatan ini. Parade menulis aksara bali juga mempergunakan papan ketik dengan aksara sebagai bentuk asimilasi budaya dengan kemajuan teknolgi.
Kritisme dalam Balutan Tradisi: Debat Bahasa Bali
Keseruan berlanjut pada hari ke-2 (Sabtu, 14 Pebruari 2026) di panggung halaman sekolah, di mana Lomba Debat Bahasa Bali berlangsung dengan sengit. Lomba ini menjadi ajang bergengsi bagi siswa yang tidak hanya fasih berbahasa Bali, tetapi juga memiliki wawasan luas mengenai isu terkait penggunaan bahasa bali sebagai bahsa ibu dalam kehidupan moderen warga Bali sehari-hari.
Para peserta diuji kemampuannya dalam menyampaikan argumen menggunakan Anggah-Ungguhing Basa (tata krama bahasa) yang benar. Topik yang diangkat pun sangat relevan dengan tantangan masa depan. Riuh tepuk tangan penonton pecah ketika para debater saling sanggah dengan argumen tajam namun tetap santun.
Prosesi Memadik dengan Pengantar Alunan Geguntangan
Kurang saranya bila kegiatan di Bulan Bahasa Bali hanya mengedepankan kompetisi berbahasa. Sebagai bentuk implementasi berbahasa Bali, kali ini dilaksanakan juga parade memadik yang merupakan salah satu prosesi meminang/melamar dalam adat Bali yang tentunya parade ini dalam bentuk simulasi. Suasana yang awalnya formal berubah menjadi cair dalam suasana menyenangkan bercampur antusias dan tawa dari rombongan keluarga mempelai pria berjalan beriringan. Dalam drama singkat ini tentunya sebagai bentuk penggunaan Bahasa Bali Alud Singgih sebagai bentuk komunikasi antar keluarga saat prosesi Memadik.
Sebelum prosesi memadik dimulai, alunan musik tradisional perpaduan suling, tawa-tawa, cengceng, serta suara indah dalam lirik penuh makna dari Wirama menjadi tahap pembuka hari ke-2 dalam Bulan Bahasa Bali tahun 2026
Melantunkan Nada Cinta pada Budaya: Lomba Lagu Pop Bali
Puncak kemeriahan acara ditutup dengan Lomba Lagu Pop Bali. Panggung utama Blasman menjadi saksi bakat-bakat emas siswa dalam olah vokal. Tidak hanya membawakan lagu-lagu hits dari musisi lokal Bali, para peserta juga dinilai dari aransemen musik dan penguasaan panggung.
Melalui lagu Pop Bali, siswa diajak untuk mencintai bahasanya melalui media yang populer dan menghibur. Alunan musik dan suara merdu para kontestan sukses membuat seluruh warga sekolah ikut bernyanyi bersama, menciptakan atmosfer kebersamaan yang hangat.
Harapan untuk Generasi Muda
Kepala SMA Negeri 1 Blahbatuh dalam sambutannya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia dan siswa. Beliau menekankan bahwa Bulan Bahasa Bali 2026 bukan sekadar seremoni tahunan.
Melalui parade aksara, memadik, debat, dan lagu pop ini, kita ingin menegaskan bahwa Bahasa Bali itu hidup. Ia ada dalam teks kuno, ia ada dalam diskusi intelektual, ia ada dalam nada-nada musik modern, bahkan ada dalam kehidupan sehari-hari. Siswa Blasman harus bangga menjadi pewaris budaya yang luhur ini."
Kegiatan Bulan Bahasa Bali 2026 di SMAN 1 Blahbatuh ini diharapkan dapat menjadi pemantik semangat bagi seluruh civitas akademika untuk terus "mengajegkan" Bali, mulai dari lingkungan sekolah hingga ke masyarakat luas.








































